Merelakan

Hidup ini terlalu kompleks untuk dibicarakan.

Terlalu banyak bab untuk dibahas.

Kali ini aku coba membahas sedikit yang aku tau tentang bab “Merelakan”.

Setiap yang bernyawa pasti akan bersua kematian. Mau tak mau rela ditinggal mati. Namun, tak hanya kematian yg memisahkan. Setidaknya tiga yang aku tau.

Pertama “Waktu”. Dipisahkan waktu dengan seseorang di masa lalu hati ini pasti bisa merelakan.

Kedua “Jarak”. Dipisahkan jarak memang sedikit berat untuk direlakan, setelah bertukar kenangan pasti tiba waktunya untuk berpisah.

Yang terakhir, lebih berat dari dipisah waktu dan jarak, yaitu “Hati”. Walau dekat pada waktu dan jarak yang sama, namun hati yang tak beriring membuat jarak dan waktu yang jauh. Tak bisa aku merelakan terpisah karena hati yang tak beriring.
Ditulis di atas speed dalam perjalanan pulang ke Putusibau dari Bunut.

Sungai Kapuas, 15 Agustus 2017.

Advertisements

Menjagah Fitrah dalam Diam

“Mbekkk…” Segerombol kambing teriak kelaparan.

Qaes, mengembala kambing-kambing tuannya ke padang rumput di kaki gunung.

Begitulah nasib seorang bujang sebatang kara yang terusir dari tanah kelahirannya. Tanah tandus Afrika. Tak dianggap keluarga dan masyarakat karena dianggap seorang penyihir. Penyihir pembawa sial. Dari kecil ditelantarkan. Kelaparan. Kesepian. Kesakitan. Menangis karena lebam dan lapar. Bertahun-tahun ia jalani dengan hidup kelam di tanah kelahiran. Memutuskan lari sejauh mungkin. Lari tanpa arah yang penting tak di tempat itu lagi.

Tuhan Maha  Pengasih dan Penyanyang. Itu diyakini Qaes. Walau sejak kecil puas mengalami pahitnya kehidupan, Qaes tetap hidup sampai sekarang. Keyakinannya meningkat ketika ia berusaha lari sejauh mungkin sampai ia pingsan kehabisan tenaga.

“Alhamdulillah,” suara Bapak berbadan tegap berkulit putih.

“Aku dimana?” Tanya Qaes terbata.

“Kau ada di rumahku. Aku menemukanmu pingsan di tepi jalan. Pasti kau lari dari kampung halamanmu. Aku tau kampungmu. Kau sangat memerihatinkan. Siapa namamu? Kalau kau mau, kau bisa tinggal bersamaku dan bekerja padaku?”

“Qaes. Tentunnya aku mau. Aku tak mau lagi kembali ke tempat itu. Aku siap bekerja apa pun untuk Bapak. Hitung-hitung ini balas budiku pada Bapak karena telah menyelamatkanku”

“Baiklah. Kau bisa tinggal di gubuk seberang rumah ini. Walau pun itu hanya gubuk, tapi masih layak tinggal. Beristirahatlah satu dua hari, jika menurutmu kau sudah sehat datanglah padaku. Ini makanlah! Biar tenagamu segera pulih.”

Qaes kembali membaringkan tubuhnya setelah menghabiskan makanannya. Kepalanya masih terasa pusing. Namun, pikirannya tiba-tiba menjadi tenang ketika mendengar suara Bapak. Ia tak tau apa yang dibaca Bapak. Tenang. Tentram. Damai. Bagai rontok semua rasa takutnya.

“Kenapa Bapak berhenti?” Tanya Qaes kecewa menghampiri Bapak.

“Teruskan Pak! Tolong bacakan itu lagi untukku. Aku merasa tenang. Tentram. Apa yang kau baca? Aku mau membaca itu?”

“Kau tak tau ini? Hmm. Aku paham. Jika kau ingin ketentraman ini selalu dalam hatimu, sehabis senja kau datang ke bangunan tak jauh dari rumah ini.”

Senja pun tiba. Qaes tak tau pasti dimana bangunan itu berada. Namun, setelah matahari sempurna tenggelam di ufuk barat suara adzan berkumandang dari bangunan yang Bapak maksud. Qaes keluar dari rumah dan mengikuti suara itu, ia yakin bangunan yang mengeluarkan suara itu yang Bapak maksud.

Hari demi hari berlalu. Qaes kini telah tinggal di gubuk yang Bapak pinjamkan. Qaes pun mulai bekerja dengan Bapak, mengembala kambing. Qaes bekerja dari pagi hingga senja. Ia bahagia. Selain bekerja, Qaes kini mulai belajar di mesjid. Qaes mulai mengenal Tuhan. Qaes semakin yakin Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyanyang.

Qaes tumbuh menjadi pemuda yang bertakwa. Kini ia seorang pemuda berumur 19 tahun yang taat beribadah dan semangat dalam bekerja. Kambing-kambing selalu digembala tempat waktu. Kambing-kambing tumbuh dengan pesat. Bapak sangat puas dengan kerja Qaes.

Di tengah terik matahari, Qaes yang sedang lapar karena pagi tadi ia tidak mengambil bekalnya di rumah Bapak. Walau pun sedang lapar ia tetap mengembala kambing.

Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Datang seorang gadis seumuran dengannya membawa makanan siang untuknya. Tak pernah ia melihat gadis itu sebelumnya.

Jatuh cinta. Bergetar dadanya. Pesona gadis itu tepat menusuk inti hatinya. Hanya sekali tatapan berhasil membuat wajah gadis itu bersarang dipikirannya. Tak berani ia menatapnya lagi. Masih ada rasa takut padaNya.

“Assalamualaikum,” suara lembut gadis yang kelak selalu terngiang dalam pikiran Qaes.

“Ayah menyuruhku mengantarkan ini padamu. Katanya tadi pagi kau lupa membawa makan siangmu.” Dengan tertunduk tak berani menantap  ia serahkan makan siang itu.

“Te..ri..makasih.” Jawab Qaes terbata.

“Sama-sama, aku pulang dulu.”

“Tunggu! Maukah kau menemaniku makan siang?” ajakan spontan terlontar dari mulut Qaes. Entah setan mana yang telah menghasutnya.

“Baiklah.” Jawab singkat gadis manis itu. Sungguh heran. Gadis itu tak perlu berpikir panjang menerima tawaran Qaes. Seolah ia memiliki  rasa yang sama.

Percakapan ringan terlontar dari mulut mereka. Walaupun makan bersama, mereka masih menjaga jarak dan sama-sama tak berani bertatap wajah. Hanya sesekali saling mencuri pandang. Ketika kedua pasang mata bertemu, saling tertunduk malu salah tingkah.

Dari percakapan ringan Qaes tau gadis itu bernama Laila, putri dari tuannya. Laila selama ini belajar di luar kampung dan baru kembali karena telah menyelesaikan sekolahnya.

Percakapan yang terjadi di padang rumput menjadi percakapan terakhir. Sama-sama takut untuk memulai. Menyapa hanya dengan senyum tipis. Jika berpapasan, dilalui dengan tundukan tak berani menatap. Hati kecil Qaes ingin menatap puas wajah manisnya. Mata bersinarnya. Pipi meronanya. Gigi putihnya yang tersembunyi di balik bibir merahnya. Seolah terekam jelas di wajahnya padahal bola matanya hanya pernah melihat sekilas dipercakapan ringan tak seberapa lama itu. Tapi, Qaes mendahulukan cinta padaNya. Qaes tak mau Dia cemburu.

Qaes mencinta dalam diam. Lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Semakin banyak asma Tuhan terucap dari mulutnya. Hari demi hari cintanya pada Laila semakin dalam. Nama Laila terucap dalam doa-doanya. Entah sudah seberapa banyak bait syair tercipta dari hati yang tenggelam cinta. Bait syair tentang Laila yang hanya ia bisikan kepada angin malam. Seolah yakin syair itu akan di dengar pujaan hati.

Orang yang saling mencinta tak selamanya akan bersatu. Qaes mendengar kabar yang sangat melukai hatinya. Laila telah lama dijodohkan dengan pria lain. Laila tak lama lagi menikah.

Qaes kini tau dia tak akan pernah bersatu dengan Laila. Akalnya berusaha melupakan Laila. Namun, hatinya selalu berteriak “jangan tinggalkan aku Laila. Aku cinta padamu.” Memang berat. Cinta tak bisa disalahkan. Tuhan yang memberikan rasa itu. Hanya mencoba lebih mendekatkan diri kepadaNya, yang membuat Qaes lebih tenang. Ia lebih khusyuk menyerahkan diri kepada Tuhan. Qaes menulis surat perpisahan.

Assalamualaikum.

Alhamdulillah besok kau akan menikah dengan jodohmu. Telah selamat dirimu dari bahayanya perzinahan. Telah tenang orang tuamu karena telah gugur sebagian tanggung jawabnya.

Aku mencintaimu sejak pertema bertemu di padang rumput. Mulai dari percakapan ringan yang teramat canggung aku telah mencintaimu. Memendam lebih baik. Aku takut ternoda cinta fitrah yang Tuhan anugerahkan dalam hatiku.

Namun, setelah mendengar kabar kau akan menikah, hatiku bagai pecah berkeping-keping. Aku mulai kacau. Aku hampir tenggelam dalam cinta kepada makhlukNya. Aku mencoba bangkit dari samudera cintamu. Berhasil. Sayang, aku terlalu banyak terminum air cintamu. Sakit jiwaku. Tapi samudera cintaku pada Tuhan lebih luas dan dalam dari samudera cintamu. Aku ceburkan diriku dan menyelam sedalam-dalamnya ke samudera tak berujung dan tak berdasar dalam jiwaku.

Rasa tenang itu kembali. Telah aku ikhlaskan dirimu. Aku relakan dirimu. Namun, cintaku padamu selalu ada. Cinta abadi tak perduli ragaku tak di sisimu. Aku mencintaimu walau aku bukan milikimu.

                                                                                    Salam manis, Qaes

 

Beberapa tetes air matanya, terkirim bersama kertas berisi perasaannya. Sakit. Bahkan terlalu. Akhir sepertiga malam, Qaes habiskan bersujud kepada Tuhan. Dan tenggelam jiwanya tak mau kembali ke raga. Di sujud terakhir, pergi dengan tenang jiwanya. Pergi ke tempat kekal abadi bersama cinta fitrah yang selalu ia jaga.

Pontianak, 16 Juni 2016

Terbit pada Pontianak Post, 3 Juni 2016

GILANG HABIBIE

Merawat Dendam

7 Juli 1937. Tragedi Jembatan Marco Polo Shanghai, Tiongkok . Jepang dan Tiongkok adu senjata. “Dor!” Bunyi letupan senapan. Panglima Abe Nobuyuki tersungkur. Ini awal kekalahan Jepang.

Empat tahun sudah Yakimura Nobuyuki menjadi yatim piatu. Remaja 17 tahun yang hidup sendiri di rumah kecil di kota Nagasaki, Jepang yang besar. Sepi adalah teman sejati.

Namun Yakimura juga seorang remaja yang mengalami pubertas. Jiwa lelakinya masih normal, menyukai wanita. Nikumi, wanita berparas cantik dengan lesung pipit dalam di pipi membuatnya jatuh hati.

Nikumi tak seperti Yakimura. Tak ada dendam pada dirinya. Nikumi teramat benci dengan peperangan. Perdamaian dunia adalah cita-citanya. Ia tak mau anak lain seperti dirinya yang hidup tanpa orangtua. Berbagai cara dilakukan untuk menolak perang. Berorasi di sekolah. Artikel perdamaian ditulisnya. Media massa sarananya menyuarakan perdamaian.

Nasib baik tak berpihak pada Nikumi. Perdamaian bukan yang diinginkan tentara Jepang. Nikumi dianggap pemberontak. Samurai berhasil memisahkan kepala Nikumi dari badannya.

Yakimura tak bisa berbuat apa-apa. Nikumi mati di hadapannya. Wajah pelaku tak terlihat jelas saat itu. Hanya nama yang terlihat jelas di seragam serdadu. Kabuto. “Pemilik nama itu harus mati!” tegasnya.

29 Januari 1942. Yakimura kini di Pontianak, Borneo. Kota yang dilintasi garis Khatulistiwa. Matahari selalu bersinar terang di tempat ini. Yakimura yakin Kota Pontianak tempat Dewa Matahari tinggal. Yakimura optimis dapat menemukan Kabuto di tempat ini.

Jepang datang ke Pontianak dengan menebar harapan ke pribumi dapat mengusir Belanda di tanah Borneo. Meyakinkan, Jepang pemimpin Asia, pelindung Asia, dan cahaya Asia. Warga pribumi menerima Jepang. Namun, Jepang pemberi harapan palsu. Nusantara tetap terjajah.

Jepang terlalu takut dengan pemberontak. Pemberontak harus mati. Pribumi yang memiliki bakat menjadi pemberontak diburu oleh Jepang. Ulama, guru, orang yang bisa membaca, orang cerdas, maupun raja adalah incaran Jepang. Mereka diburu bagai hama.

Tak ada yang berani berkeliaran di jalanan. Truk besar sudah siap mengangkut mereka yang tertangkap. Mereka diangkut ke Mandor. Sebuah hutan luas yang dipagari dengan kawat besi berduri.

Tak ada yang berani kabur. Pribumi ditelanjangi selayaknya anjing. Mereka dipaksa menggali lubang dan parit besar. Lubang untuk tempat raga mereka dikubur.

Sedikit saja tampak letih di raut wajah. Siap-siaplah duduk di kursi kayu tepat ditepi lubang galian. Mereka didudukkan menghadap lubang. Kepala mereka menunduk. Samurai itu dengan mudah memisahkan kepala dari leher.

Sudah lenyap rasa kasihan pada diri Yakimura. Sudah ratusan kepala ditebasnya.

Serdadu Jepang sangat haus akan lubang surga di antara dua paha wanita. Tiongkok, Filipina, Jawa, dan daerah sekitarnya adalah wilayah tempat berburu perawan. Jugun Ianfu nama bagi perawan-perawan itu. Berbagai cara dilakukan Jepang mencari perawan. Berjanji menyekolahkan mereka ke Tokyo dan Shonanto, memberikan pekerjaan, dan menculik adalah cara Jepang memerangkap perawan.

Pribumi yang diangkat Jepang sebagai pejabat pemerintahan harus memberi contoh kepada rakyat mereka. Pejabat negara harus dengan sukarela menyerahkan perawan mereka untuk disekolahkan ke Tokyo atau Shonanto. Itulah mengapa Jugun Ianfu kebanyakan anak-anak bupati.

Kekuasaan telah menguasai orangtua mereka. Orangtua mereka lebih memilih kehilangan anak perawan mereka disbanding harus kehilangan jabatan mereka.

Perawan-perawan itu diangkut dari menggunakan kapal yang penuh dengan perawan berusia 15-17 tahun. Berlayar berhari-hari. Namun kapal tak pernah menuju ke Tokyo atau Shonanto. Mereka dibawa ke daerah antah-berantah yang tak perah ketahui.

Sri. Seorang anak bupati yang harus rela ikut bersama perawan-perawan lain karena keserakahan orang tuanya. Sri kini berada di Borneo. Daerah yang sebelumnya hanya diketaui dari buku-buku kusam milik kakeknya.

Rumah besar dengan banyak kamar kini menjadi tempat tinggalnya. Perawan-perawan yang telah masuk berarti tak bisa keluar lagi. Pada minggu pertama, mereka dimanjakan dengan perawatan kecantikan yang belum pernah mereka dapatkan. Lulur. Krimbat. Mandi susu. Baju bagus. Semua mereka dapatkan.

Kenikmatan mereka telah berakhir. Serdadu Jepang yang bernafsu seperti binatang telah berdatangan ke rumah itu. Wanita-wanita cantik itu harus jadi budak pemuas nafsu. Setiap hari mereka hari melayani beberapa lelaki-lelaki. Kekasaran mereka dapatkan. Lebam dan cakaran sebagai bukti keberingasan serdadu.

Kemaluan wanita-wanita itu kini telah mati rasa. Penyakit kelamin menghampiri. Sifilis, herpes, dan HIV mulai menghampiri. Seks bergilir penyebab utama. Mereka yang sakit dibawa ke Mandor dan digantikan perawan baru.

Yakimura penggila wanita. Setiap hari Jugun Ianfu ditidurinya. Namun, entah ada sihir apa pada diri Sri. Yakimura tak berani menyentuh Sri.

Sri terkulai lemas di ranjang. Keganasan serdadu Jepang telah membuatnya tak berdaya. Sifat kemanusian Yakimura kini kembali. Ia menangis melihat Sri. Terlihat wajah Nikumi pada diri Sri. Mata hitamnya. Rambut lurusnya. Bibir tipis merah muda. Kulit kuning khas wanita Asia. Lesung pipit di pipi.

“Kenapa kau menangis?” Tanya Sri.

Plak… Tamparan menyambar ke pipi Sri.

“Diam kau wanita sial!” teriak Yakimura kesal. Ia malu mengakui kasihan dengan Sri. Yakimura jatuh cinta dengan Sri yang mirip Nikumi.

“Sri, maaf.”

“Kenapa kau tiba-tiba minta maaf kepadaku?” Tanya Sri keheranan

“Aku menyesali segala perbuatanku. Aku sudah gila. Ini tak seperti yang diinginkan Nikumi. Sebagai permintaan maafku, sebutkan satu permintaanmu?”

“Aku mau bebas.”

Yakimura mengabulkan permintaan Sri, membawanya ke hutan.

“Terimakasih.” Tak banyak kata yang terucap dari Sri, seraya meninggalkan Yakimura.

Yakimura kini kehilangan Nikumi untuk kedua kalinya. Terpaksa merelakannya pergi daripada harus melihat Sri mati di hadapanya.

Yakimura kembali dengan tujuan awalnya membunuh Kabuto. Namun dirinya tak bisa lari dari tugasnya sebagai serdadu, membunuh pribumi. Menyiksa. Memukul. Namun, dirinya tak pernah kembali ke rumah seks itu. Ia takut menemui Nikumi lagi dan harus kehilangan Nikumi untuk ketiga kalinya.

Di suatu senja, datang truk berisi penuh pemberontak. Sungguh sial nasib Yakimura, Sri ada di dalam kelompok itu. Ia kini harus bertemu dengan Nikumi lagi.

Pemberontak-pemberontak itu kini berbaris menghadap lubang besar. Yakimura hanya bertugas menjaga di belakang. Seorang serdadu Jepang datang dengan samurai di tangan kanannya. Satu-persatu pemberontak tersungkur ke lubang dengan kepala sudah putus.

Beberapa detik lagi Sri akan menemui ajalnya. Yakimura lari dengan samurai di tangganya menebas serdadu itu. Lepas kepala serdadu dengan seragam yang tertulis nama, Kabuto. Tunai sudah dendamnya.

Kemudian Yakimura menikam perutnya sendiri. Ia tak mau untuk kedua kalinya melihat Nikumi mati di hadapanya. Mati jalan terbaik demi menemui Nikumi yang sebenarnya.

 

 

Dibukukan pada “Sabtu Senja” Antologi Cerpen.

500

Lapar. Anakku menangis. Dua hari sudah, tak ada sesuap nasi pun mengganjal lambung kami. Penghasilan suamiku yang hanya seorang pemulung tak mampu menafkahi istri dan anaknya. Seorang anak berumur satu tahun, harus tumbuh besar tanpa pernah merasakan makanan bergizi.

“Tak perlu yang bergizi yang penting kenyang.” Kata suamiku.

“Emangnya kau mau, anakmu ini kurang gizi?” Tanyaku padanya.

“Tak apa kurang gizi, dari pada dia mati kelaparan.” Jawabnya padaku.

Dasar suami tak berguna. Tak mau berkerja lebih keras. Tak mau membanting tulang lebih kuat. Yang dia tau hanya memungut barang bekas. Sudah lelah aku menyuruhnya mencari pekerjaan lain. Selalu saja, susah mencari pekerjaan di ibu kota menjadi alasannya.

“Oi, lelaki pemalas! Apakah kau tak bisa mencari pekerjaan lain?” Tanyaku.

“Susah mencari pekerjaan di ibu kota.” Alasannya.

“Aku sudah bosan hidup seperti ini!” Teriakku pada lelaki pemalas itu.

“Yang sabar sayang! Aku telah melamar pekerjaan kesana kemari. Tapi belum ada satu pun yang mau menerimaku. Tak ada yang mau menerima seseorang yang hanya tamat SMA sepertiku. Kamu syukuri apa yang ada. Ini saja sudah cukup buat kita sekeluarga. Pekerjaan yang aku lakukan pun halal. Insya Allah berkah untuk keluarga kita.” Katanya berusaha menghiburku.

“Cukup kata kau? Kita sudah tidak makan dua hari kau bilang cukup. Lebih baik kau cari pekerjaan yang tak halal dari pada kau punya kerjaan halal tapi anak dan istrimu mati keleparan.” Kataku sambil menangis.

Tak sepatah pun keluar dari mulutnya. Ia keluar dari rumah dengan karung besar di punggungnya. Setiap hari ia pergi pagi pulang malam. Tapi tak pernah sebongkah emas yang dibawa. Sekarung sampah dia bawa ke rumah. Setiap hari bau busuk menikam hidungku. Setiap malam tikus-tikus menginap di rumahku. Rumah berdinding karung semen. Rumah beratap baliho bekas kampanye. Di sinilah kami tinggal.

 

Ada yang bilang rumahku adalah surgaku. Tapi bagiku rumahku adalah nerakaku. Setiap hari pertengkaran suami istri dan tangisan anak kecil yang kelaparan mengiang dari rumah ini. Bau busuk menikam hidung. Tumpukan sampah di sekelilingnya. Dan benih-benih penyakit siap menyerang kami.

Besok ulang tahun pernikahan kami yang ketiga. Pernikahan tanpa restu, membuat aku hidup seperti ini. Lelaki tak berguna itu dulunya seorang remaja tampan pujaan hatiku. Aku dan dia adalah dua sejoli pengembara cinta. Sepasang remaja yang mengalami masa pubertas.

Aku dulu perawan muda yang jatuh cinta dengan teman sekelas. Pria tampan itu menghipnotisku. Anak SMA sepertiku wajar saja jika jatuh cinta. Dengan paras cantikku tak susah aku menaklukan hati pria itu. Cukup berkedip mata padanya, ia jatuh hati padaku. Aku berhasil mendapatkannya.

Kami saling mencintai. Dunia bagai milik kami berdua. Aku tak pernah mau jauh darinya. Kasih sayangnya membuatku tenggelam ke dalam jurang cinta. Mulut manisnya menerbangkan ku ke langit ketujuh. Pelukannya menghangatkan tubuh. Aku tak mau jauh darinya. Aku rela menyerahkan semua untuknya.

Masa SMA pun telah berakhir. Aku dan dia berhasil lulus. Tapi entah ada setan mana yang merasuk pikiran ayahku. Ayahku mau menikahkanku dengan duda paruh baya kaya raya. Alasannya, ia tak mau hidup miskin. Ia ingin hidup kaya walau pun harus mengorbankan anak sematang wayangnya.

Tentu aku tak menyetujui keputasan ayahku. Aku mencintai pacarku. Aku ceritakan permasalahan itu padanya. Pacarku gila. Dia mengajakku kawin lari. Tak butuh pikir panjang. Aku menyetujuinya. Kini aku berada di rumah ini karena kebodohanku.

Andaiku terima perjodohan itu, mungkin kini aku hidup dengan kegemilangan harta. Aku bisa makan tiga kali sehari. Aku bisa shopping. Aku punya banyak perhiasan. Aku bisa tinggal di rumah bak istana. Tapi penyesalan selalu datang terlambat.

“Oek…..!!!” Tangis anakku membangunkanku dari lamunan.

“Apakah kau tak bisa diam? Aku juga lapar. Bukan hanya kau yang lapar.”

Aku tak tahan mendengar tangisannya. Tangisannya membuat laparku menjadi-jadi. Tiba-tiba seperti ada setan yang merasuk ke tubuhku. Aku sekap wajahnya dengan bantal. Tubuhnya meronta-ronta. Tak lama, tak ada lagi terdengar tangisannya. Tubuhnya diam. Aku senang tak ada suara tangisannya lagi.

“Assalamualaikum” terdengar suara suamiku.

Aku panik. Aku takut dia tau kalau aku yang membunuh anaknya.  Tapi tak ada yang bisa aku lakuakan. Pasrah aku menerima amarahnya.

“Ada apa dengan anak kita?” Tanya suamiku sambil menangis takut kehilangan anaknya.

“Dia mati kelaparan. Tak ada yang bisa aku lakukan untuknya.” Jawabku sambil menyakinkannya.

Dia menangis sejadi-jadinya. Seolah-olah anaknya mati karenanya. Tampak jelas penyesalan di wajahnya. Aku tertawa dalam benakku. Aku senang dia tak mengetaui perbuatanku.

Merasa malu karena perbuatannya. Ia membawa jenazah anaknya entah kemana. Hari itu pun menjadi hari terakhir aku melihat suamiku. Semanjak itu ia tak pernah kembali ke rumah. Aku senang. Kini tak ada lagi yang harus aku urus.

Namun, kini harus ku nafkahi diriku sendiri. Aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan uang. Ku lihat diriku dari sebuah cermin. Tubuhku begitu menggoda. Aku bisa menggoda pria berdompet tebal. Umurku 21 tahun. Banyak yang mau denganku. Parasku terlihat seksi walau tanpa make up. Dengan tubuh dan wajah seksi, aku bisa mendapatkan uang. Aku bahagia.

Malam ini, aku turun ke alun-alun kota. Dengan rok pendek dan baju berdada rendah. Menjajakan diri ke pria hidung belang. Tak butuh lama aku berdiri di tengah malam. Hanya berselang satu jam kini aku telah di kamar hotel. Kamar yang jauh lebih bagus dari kamarku. Aku hanya perlu membiarkan tubuhku dipermainkan dan dinikmati pria hidung belang. Tak hanya kenikamatan yang aku dapati. Uang tiga ratus ribu masuk ke dalam saku. Uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku.

Aku menikmati pekerjaanku. Malam ke malam. Tak terasa sudah ratusan malam aku serahkan tubuhku pada pria hidung belang. Aku tau ini hina. Tapi aku sudah terlanjur hina dan aku menikmati kehinaanku. Dengan menjadi wanita hina aku menyambung hidup.

Malam ini, tepat malam ke-500 aku menjadi wanita hina. Aku sudah bosan. Aku harap bisa melepas gelar hina pada diriku malam ini. Jika ini benar malam terakhirku, aku mau kaya raya pada malam terakhir.

Harapanku terkabul. Malam ini aku dapat pria bandar narkoba yang kaya raya. Kata mucikariku, pria itu telah menungguku di hotel berbintang lima dengan kamar kelas termewah. Aku bahagia. Malam ini aku dibayar 5 juta dan tidur di kamar bak kamar raja. Sungguh malam terakir yang penuh makna.

Aku harus lebih cantik dari malam-malam sebelumnya. Luluran. Kerimbat. Baju baru yang super anggun dan seksi. Bau wangi semerbak mendominasi penciuman. Semaksimal mungkin aku lakukan untuk malam terakhir.

Kini aku berdiri di depan kamar bernomor 500. Kamar Raja. Bersiap dengan dandanan permaisuri. Bersikap bak permaisuri yang siap memuaskan raja.

“Tok… tok…. tok….” Aku mengetuk kamar.

Pintu terbuka. Tapi tak terlihat orang yang membukanya. Aku langkahkan kaki ke dalam kamar. Bau harum kamar raja menghampiri penciumanku. Senyuman bahagia terpancar dari bibir tipisku. Tapi ada yang aneh dari kamar ini. Tak ketemukan seorang pun. Tiba-tiba terdengar bunyi rintikan air dari kamar mandi. Aku mulai berpikir pria itu sedang mandi. Aku memutuskan untuk menunggu sambil berbaring di tempat tidur.

Lima menit sudah. Tak kunjung keluar pria itu dari kamar mandi. Aku mencoba melihat pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram. Aku terkejut. Tak terlihat bayangan seseorang pun.

Tiba-tiba ada yang menarik kakiku. Aku tersungkur. Kedua tanganku ditarik dan diikat di punggung. Aku meronta. Kedua kaki juga diikat. Tak ada yang bisa aku lakukan. Wajahku ditutupinya dengan penutup kepala. Aku hanya bisa teriak. Lalu tubuhku diangkat ke atas kasur. Aku belum bisa melihat wajahnya.

“Hei, wanita sial! Masih ingatkah kau dengan aku?”

“Kau laki-laki sial? Mantan Suamiku?”

“Rupanya kau masih ingat dengan aku. Oh ya aku bukan mantan suamimu. Aku masih suamimu. Aku belum menceraimu.”

“Terserah kau, yang penting lepaskan aku sekarang!”

Dia buka penutup kepalaku. Terlihat wajahnya yang siap melahap tubuhku. Tiba-tiba ia keluarkan tumpukan uang seratus ribuan.

“Ini untuk kamu semuanya”

“Aku tak butuh uangmu. Dasar laki-laki bajingan!” Aku ludah wajahnya.

“Dasar wanita tak tau diri. Dulu kau menghinaku karena aku miskin. Kini aku kaya raya kau menolakku. Dasar wanita murahan.” Tamparannya mendarat di wajahku.

“Tak sudi aku menerima laki-laki sepertimu lagi.”

Merasa sakit hati, tubuhku ditendang-tendangnya. Bertubi-tubi pukulannya mendarat di wajah aku.

“Minta ampun padaku!”

“Dasar lelaki bajingan! Tak sudi aku minta ampun padamu. Kau yang salah”

“Dor!” Sebuah peluru bersarang di perutku.

Tiba-tiba ia menangis sekeras-kerasnya. Raut wajahnya seolah penuh penyesalan telah melakukan ini padaku.

“Dor!” Ia tersungkur di tubuhku. Mengalir darah dari kepalanya. Ia menembak kepalanya sendiri.

Di kamar 500. Di malam ke-500. Harapanku terkabul. Kini aku menunggu ajal menjemputku. Malam ini. Malam terakhirku.