MANUSIA berlagak tuhan

i

Kita selau memaki dengan kata yang disadari

Padahal sikap ini penuh dengan caci maki

Aku berikan dua maki yang kita jarang sadari.

Pertama, keraguan.

Ya, benar keraguan kawan.

Keraguan yang remeh tapi bukan hal yang temeh.

Keraguan tak bisa makan di esok hari

Terlalu takut berlauk ikan teri

Keraguanmu adalah hal yang begitu ngeri

Berani memaki Tuhan mu sendiri

Kedua, berandai-andai.

Jangan suka mengungkap seandainya

“Seandainya aku tidak seperti ini dulu”

“Seandainya aku tidak begini dulu”

“Seandainya aku melakukan perintah orang tuaku”

“Seandainya dadaku berbulu”

Diakhiri lagak menjadi Tuhan “pasti aku akan begitu.”

Kata seandaimu,

Adalah memaki takdir namun malu-malu.

ii

Kata-kata makimu itu benalu untuk dirimu

Memakiku dengan kata neraka untukku

Tak ada malu, dengan pengakuan surga untukmu

Sudahku bilang berguru dengan manusia.

Kalau kau berguru dengan manusia maka taak ada maki sia-sia

Surga terlalu besar untuk hanya dirimu saja

Masih lebih dari cukup untuk orang-orang layaknya aku yang berdosa.

Begitu juga neraka terlalu pedih untuk menyiksaku saja.

Masih sanggup siksaannya untuk kamu yang begitu mulia

Advertisements

Kupu-kupu Kuning Hinggap di Dadaku

Ketika sedang berkendara dengan tujuan yang samar, kupu-kupu kuning cantik terbang dengan kendali yang hilang dan akhirnya menabrak dadaku. Kupu-kupu hinggap ketika kendaraan masih melaju. Terpaksa berhenti karena tak mau kupu-kupu yang berumur pendek menghabiskan waktunya berharga di dadaku dan ikut menghabiskan waktu tanpa tujuan.

Ternyata seekor semut Rang-rang sedang menjepit antenanya. Sepertinya semut menjepit antena kupu-kupu karena merasa terganggu ketika ia menghisap nektar di daerah kekuasaannya. Celakanya kupu-kupu yang kesakitan hilang kendali dan terbang. Semut sekali menjepit pantang melepas sampai tuntas. Akibatnya terbang terbawa kupu-kupu.

Walaupun hidupku sepertinya tanpa tujuan, aku masih memiliki punya hati untuk menolong mereka. Sialnya, hidup adalah pilihan. Aku tak bisa memilih untuk menyelamatkan semut dan kupu-kupu sekaligus.

Jika aku memilih untuk menyalamatkan semut maka memutuskan antena kupu-kupu adalah cara satu-satunya dan membuat hidup kupu-kupu yang singkat tanpa arah sepertiku. Semut akan selamat walaupun akan berakhir hidup sendirian dan mati kesepian menahan rindu karena aku yang belum belajar bicara dengan binatang tak bisa menanyakan di mana rombongannya berada.

Namun jika aku harus memilih untuk menyalamatkan kupu-kupu dengan sadis aku harus menghancurkan kepala semut agar capitnya melepas antena. Sadis memang. Tapi sepertinya tak ada cara lain.

Memecahkan kepala semut pun jadi pilihan. Sepertinya semut lainnya tak mungkin ada yang melihat aku yang melakukan ini dan mereka tak bisa dendam denganku yang memecahkan kepala pahlawan mereka. Mungkin. Karena dengan beraninya semut tersebut menjepit musuh yang badannya berkali lipat lebih besar darinya. Tetapi itu pilihan yang tepat menurutku. Lebih cepat mati dari pada disiksa rindu dan hidup sendiri.

Kupu-kupu kuning cantik pun selamat. Aku yang belum belajar berbicara dengan binatang bisa melihat dari matanya, sepertinya ia berterimakasih kepadaku.

Terbang terus sayang. Terbang dengan tujuan.

Kata orang ada kupu-kupu ada tamu. Kupu-kupu cantik ini terlalu dekat dan bahkan hinggap di dadaku. Aku harap tamu itu dia. Dia yang saat ini selalu aku cari tau walaupun sepertinya tau sama tau. Stalking media sosial caraku satu-satunya mengenal. Seseorang yang aku ingin kenal dan mungkin berbagi cerita sampai kita saling berlabuh.

Merelakan

Hidup ini terlalu kompleks untuk dibicarakan.

Terlalu banyak bab untuk dibahas.

Kali ini aku coba membahas sedikit yang aku tau tentang bab “Merelakan”.

Setiap yang bernyawa pasti akan bersua kematian. Mau tak mau rela ditinggal mati. Namun, tak hanya kematian yg memisahkan. Setidaknya tiga yang aku tau.

Pertama “Waktu”. Dipisahkan waktu dengan seseorang di masa lalu hati ini pasti bisa merelakan.

Kedua “Jarak”. Dipisahkan jarak memang sedikit berat untuk direlakan, setelah bertukar kenangan pasti tiba waktunya untuk berpisah.

Yang terakhir, lebih berat dari dipisah waktu dan jarak, yaitu “Hati”. Walau dekat pada waktu dan jarak yang sama, namun hati yang tak beriring membuat jarak dan waktu yang jauh. Tak bisa aku merelakan terpisah karena hati yang tak beriring.
Ditulis di atas speed dalam perjalanan pulang ke Putusibau dari Bunut.

Sungai Kapuas, 15 Agustus 2017.

Menjagah Fitrah dalam Diam

“Mbekkk…” Segerombol kambing teriak kelaparan.

Qaes, mengembala kambing-kambing tuannya ke padang rumput di kaki gunung.

Begitulah nasib seorang bujang sebatang kara yang terusir dari tanah kelahirannya. Tanah tandus Afrika. Tak dianggap keluarga dan masyarakat karena dianggap seorang penyihir. Penyihir pembawa sial. Dari kecil ditelantarkan. Kelaparan. Kesepian. Kesakitan. Menangis karena lebam dan lapar. Bertahun-tahun ia jalani dengan hidup kelam di tanah kelahiran. Memutuskan lari sejauh mungkin. Lari tanpa arah yang penting tak di tempat itu lagi.

Tuhan Maha  Pengasih dan Penyanyang. Itu diyakini Qaes. Walau sejak kecil puas mengalami pahitnya kehidupan, Qaes tetap hidup sampai sekarang. Keyakinannya meningkat ketika ia berusaha lari sejauh mungkin sampai ia pingsan kehabisan tenaga.

“Alhamdulillah,” suara Bapak berbadan tegap berkulit putih.

“Aku dimana?” Tanya Qaes terbata.

“Kau ada di rumahku. Aku menemukanmu pingsan di tepi jalan. Pasti kau lari dari kampung halamanmu. Aku tau kampungmu. Kau sangat memerihatinkan. Siapa namamu? Kalau kau mau, kau bisa tinggal bersamaku dan bekerja padaku?”

“Qaes. Tentunnya aku mau. Aku tak mau lagi kembali ke tempat itu. Aku siap bekerja apa pun untuk Bapak. Hitung-hitung ini balas budiku pada Bapak karena telah menyelamatkanku”

“Baiklah. Kau bisa tinggal di gubuk seberang rumah ini. Walau pun itu hanya gubuk, tapi masih layak tinggal. Beristirahatlah satu dua hari, jika menurutmu kau sudah sehat datanglah padaku. Ini makanlah! Biar tenagamu segera pulih.”

Qaes kembali membaringkan tubuhnya setelah menghabiskan makanannya. Kepalanya masih terasa pusing. Namun, pikirannya tiba-tiba menjadi tenang ketika mendengar suara Bapak. Ia tak tau apa yang dibaca Bapak. Tenang. Tentram. Damai. Bagai rontok semua rasa takutnya.

“Kenapa Bapak berhenti?” Tanya Qaes kecewa menghampiri Bapak.

“Teruskan Pak! Tolong bacakan itu lagi untukku. Aku merasa tenang. Tentram. Apa yang kau baca? Aku mau membaca itu?”

“Kau tak tau ini? Hmm. Aku paham. Jika kau ingin ketentraman ini selalu dalam hatimu, sehabis senja kau datang ke bangunan tak jauh dari rumah ini.”

Senja pun tiba. Qaes tak tau pasti dimana bangunan itu berada. Namun, setelah matahari sempurna tenggelam di ufuk barat suara adzan berkumandang dari bangunan yang Bapak maksud. Qaes keluar dari rumah dan mengikuti suara itu, ia yakin bangunan yang mengeluarkan suara itu yang Bapak maksud.

Hari demi hari berlalu. Qaes kini telah tinggal di gubuk yang Bapak pinjamkan. Qaes pun mulai bekerja dengan Bapak, mengembala kambing. Qaes bekerja dari pagi hingga senja. Ia bahagia. Selain bekerja, Qaes kini mulai belajar di mesjid. Qaes mulai mengenal Tuhan. Qaes semakin yakin Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyanyang.

Qaes tumbuh menjadi pemuda yang bertakwa. Kini ia seorang pemuda berumur 19 tahun yang taat beribadah dan semangat dalam bekerja. Kambing-kambing selalu digembala tempat waktu. Kambing-kambing tumbuh dengan pesat. Bapak sangat puas dengan kerja Qaes.

Di tengah terik matahari, Qaes yang sedang lapar karena pagi tadi ia tidak mengambil bekalnya di rumah Bapak. Walau pun sedang lapar ia tetap mengembala kambing.

Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Datang seorang gadis seumuran dengannya membawa makanan siang untuknya. Tak pernah ia melihat gadis itu sebelumnya.

Jatuh cinta. Bergetar dadanya. Pesona gadis itu tepat menusuk inti hatinya. Hanya sekali tatapan berhasil membuat wajah gadis itu bersarang dipikirannya. Tak berani ia menatapnya lagi. Masih ada rasa takut padaNya.

“Assalamualaikum,” suara lembut gadis yang kelak selalu terngiang dalam pikiran Qaes.

“Ayah menyuruhku mengantarkan ini padamu. Katanya tadi pagi kau lupa membawa makan siangmu.” Dengan tertunduk tak berani menantap  ia serahkan makan siang itu.

“Te..ri..makasih.” Jawab Qaes terbata.

“Sama-sama, aku pulang dulu.”

“Tunggu! Maukah kau menemaniku makan siang?” ajakan spontan terlontar dari mulut Qaes. Entah setan mana yang telah menghasutnya.

“Baiklah.” Jawab singkat gadis manis itu. Sungguh heran. Gadis itu tak perlu berpikir panjang menerima tawaran Qaes. Seolah ia memiliki  rasa yang sama.

Percakapan ringan terlontar dari mulut mereka. Walaupun makan bersama, mereka masih menjaga jarak dan sama-sama tak berani bertatap wajah. Hanya sesekali saling mencuri pandang. Ketika kedua pasang mata bertemu, saling tertunduk malu salah tingkah.

Dari percakapan ringan Qaes tau gadis itu bernama Laila, putri dari tuannya. Laila selama ini belajar di luar kampung dan baru kembali karena telah menyelesaikan sekolahnya.

Percakapan yang terjadi di padang rumput menjadi percakapan terakhir. Sama-sama takut untuk memulai. Menyapa hanya dengan senyum tipis. Jika berpapasan, dilalui dengan tundukan tak berani menatap. Hati kecil Qaes ingin menatap puas wajah manisnya. Mata bersinarnya. Pipi meronanya. Gigi putihnya yang tersembunyi di balik bibir merahnya. Seolah terekam jelas di wajahnya padahal bola matanya hanya pernah melihat sekilas dipercakapan ringan tak seberapa lama itu. Tapi, Qaes mendahulukan cinta padaNya. Qaes tak mau Dia cemburu.

Qaes mencinta dalam diam. Lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Semakin banyak asma Tuhan terucap dari mulutnya. Hari demi hari cintanya pada Laila semakin dalam. Nama Laila terucap dalam doa-doanya. Entah sudah seberapa banyak bait syair tercipta dari hati yang tenggelam cinta. Bait syair tentang Laila yang hanya ia bisikan kepada angin malam. Seolah yakin syair itu akan di dengar pujaan hati.

Orang yang saling mencinta tak selamanya akan bersatu. Qaes mendengar kabar yang sangat melukai hatinya. Laila telah lama dijodohkan dengan pria lain. Laila tak lama lagi menikah.

Qaes kini tau dia tak akan pernah bersatu dengan Laila. Akalnya berusaha melupakan Laila. Namun, hatinya selalu berteriak “jangan tinggalkan aku Laila. Aku cinta padamu.” Memang berat. Cinta tak bisa disalahkan. Tuhan yang memberikan rasa itu. Hanya mencoba lebih mendekatkan diri kepadaNya, yang membuat Qaes lebih tenang. Ia lebih khusyuk menyerahkan diri kepada Tuhan. Qaes menulis surat perpisahan.

Assalamualaikum.

Alhamdulillah besok kau akan menikah dengan jodohmu. Telah selamat dirimu dari bahayanya perzinahan. Telah tenang orang tuamu karena telah gugur sebagian tanggung jawabnya.

Aku mencintaimu sejak pertema bertemu di padang rumput. Mulai dari percakapan ringan yang teramat canggung aku telah mencintaimu. Memendam lebih baik. Aku takut ternoda cinta fitrah yang Tuhan anugerahkan dalam hatiku.

Namun, setelah mendengar kabar kau akan menikah, hatiku bagai pecah berkeping-keping. Aku mulai kacau. Aku hampir tenggelam dalam cinta kepada makhlukNya. Aku mencoba bangkit dari samudera cintamu. Berhasil. Sayang, aku terlalu banyak terminum air cintamu. Sakit jiwaku. Tapi samudera cintaku pada Tuhan lebih luas dan dalam dari samudera cintamu. Aku ceburkan diriku dan menyelam sedalam-dalamnya ke samudera tak berujung dan tak berdasar dalam jiwaku.

Rasa tenang itu kembali. Telah aku ikhlaskan dirimu. Aku relakan dirimu. Namun, cintaku padamu selalu ada. Cinta abadi tak perduli ragaku tak di sisimu. Aku mencintaimu walau aku bukan milikimu.

                                                                                    Salam manis, Qaes

 

Beberapa tetes air matanya, terkirim bersama kertas berisi perasaannya. Sakit. Bahkan terlalu. Akhir sepertiga malam, Qaes habiskan bersujud kepada Tuhan. Dan tenggelam jiwanya tak mau kembali ke raga. Di sujud terakhir, pergi dengan tenang jiwanya. Pergi ke tempat kekal abadi bersama cinta fitrah yang selalu ia jaga.

Pontianak, 16 Juni 2016

Terbit pada Pontianak Post, 3 Juni 2016

GILANG HABIBIE